majlisi

Namanya sudah sangat populer. Ia seorang ulama besar abad ke-10 hijriah, mendekasikan hidupnya untuk meneliti hadis Nabi SAW dan Ahlul Bait a.s. bernama lengkap Allamah Muhammad Baqir Majlisi, lahir pada tahun 1037 H. Hari wafatnya jatuh pada 27 Ramadhan 1110 H. Ayahnya adalah Maula Muhammad Taqi Majlisi, murid istimewa Syaikh Baha’i dan termasuk pakar di berbagai bidang ilmu-ilmu Islam pada zamannya, karya-karyanya banyak dan antara lain kitab Ihyâ’ Al-Ahâdîts fî Syarh Tahdzîb Al-Hadîts. Ibunya adalah puteri Shadrudin Muhammad Asyuri yang terdidik dalam lingkungan keluarga ilmu dan keutamaan. (, Aqha Buzurge Tehrani, Al-Dzarî‘ah, jld. 1, hal. 151; Muhammad Ali Mudaris Tabrizi, Raihânah Al-Adab, jld. 5, hal. 195).

Allamah lahir, tumbuh dan besar di tengah keluarga yang terkenal dan terkemuka di kalangan Syi’ah sejak pertengahan abad kelima hijriyah, dan banyak ulama ternama yang disumbangkan oleh keluarga ini khususnya pada abad kesepuluh dan kesebelas. Mulla Maqsud, kakek Allamah yang termasuk ulama yang bertakwa dan mubalig mazhab Syi’ah dijuluki dengan ‘Majlisi’ karena tutur katanya yang indah, puisi-puisinya yang menakjubkan, dan tingkah lakunya yang bijaksana. Sejak itu, keluarga dan keturunan dia dikenal dengan julukan ‘Majlisi’ (Sayid Muslihudin Mahdawi, Zendeginomeh-e Allomeh Majlesi, jld. 1, hal. 53; Karnameh-e Allameh Majlesi, hal. 145).

Pendidikan

Allamah Majlisi mulai belajar pada ayahnya di usia empat tahun.  Potensi dan kepintaran dia luar biasa sehingga pada usianya yang keempat belas tahun dia sudah mendapatkan ijasah untuk meriwayatkan hadis dari filsuf muslim yang ternama, Mulla Sadra. Setelah itu, dia belajar dari Allamah Hasan Syusytari, Amir Muhammad Mukmin Astarabadi, Mirza Jaza’iri, Syaikh Hur Amili, Mulla Muhsin Astarabadi, Mulla Muhsin Faidh Kasyani, dan Mulla Shaleh Mazandarani. Jumlah guru besar dia tidak kurang dari dua puluh satu orang (Zendeginameh-e Allameh Majlesi, jld. 1, hal. 55).
Dalam waktu yang sangat singkat dia sudah menguasai berbagai ilmu seperti nahwu, saraf, ma’ani, bayan, bahasa arab, matematika, sejarah, filsafat, hadis, rijal, dirayah, usul fikih, fikih, dan kalam (teologi Islam).
Allamah Majlisi aktif memimpin shalat jamaah dan mengajar di Madrasah Mulla Abdillah, tapi sepeninggal ayahnya dia pindah tempat kegiatan ke Masjid Jami’ Isfahan (Yadnameh-e Allomeh Majlesi, hal. 5). Lebih dari seribu penuntut ilmu yang duduk di bangku pelajarannya dan menimba ilmu serta makrifat darinya. Antara lain, Sayid Nikmatullah Jaza’iri yang berkata, ‘Padahal dia masih muda, tapi dia sangat berusaha keras untuk mencari ilmu sehingga tidak ada ulama yang menandingi dia pada zamannya.’ ‘Pada waktu dia aktif memberi nasihat kepada masyarakat di Masjid Jami’ Isfahan, tidak ada seorang pun yang lebih fasih dari dia. Kadang-kadang aku mempelajari sebuah hadis di waktu malam, tapi kemudian di pagi hari dia menerangkan hadis itu seakan-akan aku belum pernah membaca hadis itu.’

Dia ulama yang sangat besar tapi menundukkan diri di hadapan orang lain, banyak tokoh ternama pendidikan danulama pada waktu itu yang mengikuti pelajarannya untuk memberitahukan kebesaran dia kepada pelajar-pelajar muda. Satu contoh, Syaikh Muhammad Fadhil adalah ulama besar yang mempunyai majelis ilmu dan pendidikan tersendiri, tapi dia duduk dan mengikuti pelajaran Allamah Majlisi untuk mengajarkan sifat pendudukan diri atau tawadhu’ kepada para penuntut ilmu. Sebaliknya, Allamah juga menyatakan di hadapan murid-muridnya bahwa manfaat yang didapatkannya dari kehadiran Syaikh Muhammad tidak lebih sedikit daripada manfaat yang didapatkan oleh Syaikh darinya, bahkan dia menyatakan bahwa manfaat yang didapatkannya dari Syaikh lebih banyak (ibid., hal. 66).
Berikut ini adalah nama-nama sebagian dari murid Allamah Majlisi yang besar dan telah mendapatkan ijasah untuk meriwayatkan hadis darinya: Maula Ibrahim Jailani, Maula Muhammad Ibrahim Buwanati, Mirza Ibrahim Husaini Nisyaburi, Abu Barakat bin Muhammad Isma’il Khadim Masyhadi, Maula Abu Baqa’, Abu Asyraf Isfahani, Maula Muhammad baqir Jazzi, Mulla Muhammad Baqir Lahiji, Syaikh Bahaudin Kasyi, Maula Muhammad Taqi Razi, Mirza Muhammad Taqi Almasi, Maula Habibullah Nasrabadi, Mulla Husain Tafresyi, Muhammad Ridha Ardabili, Muhammat Thahir Isfahani, Abdul Husain Mazandarani, Sayid Azizullah Jaza’iri, Mulla Muhammad Kadzim Syusytari, Syaikh Bahaudin Muhammad Jaili, Maula Mahmud Thabasi, Muhammad Yusuf Qazwaini dan lain-lain (Zendeginameh-e Allameh Majlesi, jld. 2, hal. 4).
Sayid Nikmatullah Jaza’iri saat itu masih terhitung sebagai murid baru, tapi kecerdasar, ketajaman berpikir dan kegigihannya yang tidak mengenal lelah menarik perhatian Allamah Majlisi, ditambah lagi dengan kondisi miskin dia dan temannya yang baru masuk hauzah ilmiah. Setelah itu, Allamah rutin memberi mereka santunan uang bulanan, bahkan dia menampung mereka di rumahnya selama empat tahun. Dia didik Sayid Jaza’iri sampai menjadi ulama besar dan mujtahid yang berkapabilitas tinggi, kemudian dia mengangkatnya sebagai guru di madrasah yang dibangun oleh Mirza Taqi Daulatabadi di daerah Jamalah.
Allamah Majlisi mendidik murid yang berbakat tinggi itu sampai menjadi cerminan dirinya bagi orang lain, baik dalam pengetahuan, moral, perilaku, dan kepiawaian dalam menerangkan topik ilmiah, sehingga ketika dia membawakan kuliah seolah-olah Allamah Majlisi yang sedang membawakannya, dia mempunyai sikap yang netral dan seimbang sebagaimana gurunya, dia senantiasa mengikuti bukti yang nyata dalam menghadapi kelompok siapa pun, baik itu pendukung usul fikih dan bukti rasional atau pun pendukung hadis dan bukti tekstual (Nabigheh-e Feqh wa Hadis, hal. 219).

Menyambut Cahaya

Allamah Majlisi memilih jalan gurunya dalam penyebaran ilmu Ahli Bait as., dia tangguhkan ilmu-ilmu rasional dan bergegas menyambut cahaya hadis dengan bekal penghambaan yang mutlak, langkah pertama yang diambilnya adalah membuka kuliah tentang empat kitab inti hadis Ahli Bait as. yang lebih populer dengan sebutan Kutub Al-Arba’ah. Dia menulis buku komentar atas kitab Ushûl Al-Kâfî dan Al-Tahdzîb, dia sengaja tidak menulis komentar atas kitab Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh karena menurut dia komentar yang ditulis oleh ayahnya untuk buku itu sudah cukup, adapun kitab Al-Istibshôr juga tidak dia komentari secara tertulis karena sudah dipasrahkannya kepada salah satu dari muridnya (Hur Amili, Al-Amal Al-Âmil, jld. 2, hal. 248).
Allamah senantiasa memotivasi murid-murid yang telah lama terasingkan dari hadis untuk lebih banyak mempelajari dan menelitinya. Dia sangat berusaha untuk menjaga Kutub Al-Arba’ah dari bahaya distorsi atau kepunahan dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang, salah satu cara yang digunakannya adalah menjanjikan hadiah berharga bagi siapa saja dari muridnya yang menyalin Kutub Al-Arba’ah. Mereka pun mendukung niat mulia sang guru dan menyerahkan hasil salinan mereka kepadanya secara berkala untuk ditandatangani sebagai bukti ijin untuk meriwayatkan.
Di tengah kegigihannya menjaga dan mengajarkan Kutub Al-Arba’ah, Shahîfah Sajjâdiyah Imam Ali Zainul Abidin as., Al-Irsyâd karya Syaikh Mufid, dan Al-Qowâ’id karya Allamah Hilli, Allamah mulai memikirkan ribuan kitab berharga lainnya yang seringkali menjadi korban perampokan dan kekerasan sehingga naskah-naskahnya punah secara total atau langka dan tersembunyi di peti-peti rumah. Ditambah lagi dengan fanatisme buta Ahli Sunnah yang tidak jarang merusak literatur Syi’ah, begitu pula kemungkinan Pemerintah Safawi pada zaman itu untuk runtuh karena digulingkan oleh kekuasaan-kekuasaan barat dan timur Ahli Sunnah yang tentunya akan diiringi oleh penetrasi politik kelompok Sufi dalam pusat pemerintahan. Kelomok Sufi ini sangat berbahaya juga karena mereka sering mendistorsi hadis Ahli Bait as.
Oleh karena itu, dia mengerahkan segala daya dan upayanya untuk mengumpulkan karya-karya Syi’ah, sehingga dia berhasil menemukan dua ratus Ashl (buku referensi hadis Ahli Bait as.) dari jumlah keseluruhannya yang empat ratus. Dengan itu dia berhasil membuat perpustakaan buku-buku Syi’ah yang sangat berharga. Bahkan, suatu saat dia dibertahu bahwa di salah satu perpustakaan Yaman ada naskah kitab Madînah Al-‘Ilm –karya terbesar Syaikh Shaduq yang hilang, seketika itu pula dia menyampaikan persoalan ini kepada raja, sehingga raja mengirimkan berapa orang delegasi ke raja Yaman dengan membawa hadiah-hadiah yang sangat berharga untuk memohon kitab itu, tapi entah karena alasan apa kitab itu pada akhirnya tidak sampai kepada Allamah. Di sela-sela aktifitas intelektual dan kulturalnya, dia menghidupkan kembali kitab-kitab kuno yang pernah ditulis oleh ulama terdahulu, dia motivasi para pelajar untuk menyalin kitab-kitab itu dan menyelamatkannya dari keterasingan, kemudian di setiap hasil salinan itu dia memberi catatan bahwa sebelumnya buku ini terasingkan dan tidak ada seorang pun yang membacanya.

 Ensiklopiedia Hadis: Bihâr Al-Anwâr

Terlintas ide baru di benak Allamah Majlisi untuk mengumpulkan mutiara-mutiara Ahli Bait as. yang sangat berharga setelah menemukannya dari berbagai penjuru dunia Islam, dia membukukannya menjadi satu inseklopedia yang diberinya nama Bihâr Al-Anwâr atau samudera cahaya. Dengan demikian, semua orang syi’ah dapat dengan mudah mengakses sabda dan sunnah Ahli Bait as. dalam rangka menggapai jalan yang lurus menuju Tuhan, dan sampai kapan pun aliran atau mazhab apa saja yang ingin mengetahui sikap Ahli Bait as. dalam topik tertentu bisa diarahkan oleh komunitas Syi’ah ke karya spektakuler tersebut. Itulah pentingnya kenapa dia menulis dan menyusun kitab Bihâr Al-Anwâr.
Di pengantar buku itu Allamah mengatakan, ‘Pertama-tama saya menelaah buku-buku yang populer, setelah itu saya meneliti kitab-kitab lain yang kuno dan sempat terasingkan karena alasan tertentu. Di mana saja ada naskah hadis, saya pasti pergi ke sana dan membeli atau memanfaatkannya dengan harga apa pun yang ditawarkan pemiliknya. Saya kelilingi Timur dan Barat untuk menemukan naskah-naskah yang berharga. Dalam hal ini, saya juga mengerahkan saudara-saudara sealiran saya untuk pergi ke kota dan pelosok-pelosok desa, sehingga alhamdulillah mereka berhasil mengumpulkan referensi-referensi yang sangat berharga pula … setelah proses ferifikasi dan revisi, saya melihat susunan referensi itu cacat dan klasifikasi hadisnya tidak efektif bagi para peneliti, itulah sebabnya saya membuat susunan baru yang sekiranya menarik dan efektif dari segala sisi … tapi saya masih khawatir jangan-jangan setelah kepergian saya nanti referensi revisi yang saya terbitkan ini terasingkan juga atau dibakar oleh para penjajah yang zalim. Oleh karena itu, saya segera minta pertolongan kepada Allah swt. untuk menulis kitab Bihâr Al-Anwâr.
Di dalam kitab ini ada sekitar 30000 hadis yang terbagi pada 48 judul kitab yang ilmiah, di dalam ini juga anda akan megenal pasal-pasal yang mungkin untuk pertama kalinya kalian kenal dan betul-betul baru.
Oleh karena itu, wahai saudara-saudara segamaku yang menyimpan wilayah Ahli Bait as. di dala lubuk hati mereka serta menyanjung mereka dengan lidah! Bergegaslah untuk membaca buku ini, akui dan yakinilah, percayalah dan berpegang teghulah padanya, dan jangan sampai kalian termasuk orang yang mengatakan sesatu yang bertentangan dengan isi hatinya.
Tapi sayang, waktu yang terbatas dan kesibukannya yang sangat padat membuat Allamah tidak sempat lagi untuk melakukan ferifikasi dan koreksi terhadap hadis-hadis itu. Makanya di pengantar kitab dia mengatakan, ‘Seandainya ajal memberi saya kesempatan dan anugerah Allah swt. masih meliputi diri saya, ingin sekali saya menuliskan komentar yang lengkap tentang maksud para ulama dari karya-karya mereka dan memuatnya di dalam kitab Bihâr Al-Anwâr, karena dengan demikian para pelajar dan ulama generasi yang akan datang juga dapat memanfaatkannya secara lebih efektif dan efisien.’ (Karnameh-e Allameh Majlesi, hal. 51).
Allamah Majlisi mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam ferifikasi dan koreksi atas hadis atau riwayat, hal itu bisa kita saksikan di dalam kitab Mir’âh Al-‘Uqûl.
Imam Khomaini berkata tentang kitab Bihâr Al-Anwâr, ‘Kitab ini adalah khasanah seluruh hadis yang dinisbahkan kepada pemimpin-pemimpin Islam, terlepas apakah penisbahan itu tepat atau tidak. Di dalamnya, ada bab-bab yang oleh penyusunya sendiri dinyatakan bahwa penisbahan hadis-haidis ini kepada mereka tidak tepat. Pada prinsipnya, penyusun tidak bermaksud untuk menulis buku ilmiah yang secara spesifik menentukan mana hadis yang sohih dan mana yang bukan, oleh karena itu siapa pun tidak berhak mengkritik kenapa dia memuat hadis-hadis seperti itu di dalam kitabnya.’ (Kasyf Al-Asrar, hal. 319).

Karya Allamah Majlisi

Allamah sering menulis buku sesuai dengan tuntutan budaya masyarakat zaman itu, contohnya ketika dia melihat masyarakatnya sedang membutuhkan ilmu astronomi maka dia menulis buku Ikhtiyârôt, ketika dia melihat banyak orang yang cenderung menjauh dari Allah swt. maka dia menulis kitab ‘Ain Al-Hayâh. Karya-karya dia yang berbahasa persi juga sangat berguna dalam menyelesaikan problem agamis dan duniawi masyarakat saat itu, sehingga praktis telah membimbing mereka ke jalan yang benar. Banyak juga kitab-kitab dia yang bisa digunakan baik oleh orang arab maupun persi, orang bodoh maupun alim, laki maupun perempuan, bahkan anak-anak kecil juga bisa mengambil manfaat yang berharga darinya (Yadnameh-e Allameh Majlesi, hal. 25; Tarjumeh-e Roudhat Al-Jinân, jld. 2, hal. 86;, Syaikh Abbas Qomi, Fawâ’id Al-Radhawiyah, hal. 413).
Karya-karya Allamah Majlisi selain Bihâr Al-Anwâr adalah:
1- Mir’âh Al-‘Uqûl fî Syarh Akhbâr Al-Rasûl yang mengomentari kitab Ushûl Al-Kâfî;
2- Malâdz Al-Akhbâr fî Syarh Al-Tahdzîb;
3- Syarh Arba’în;
4- Al-Wajîzah fî Al-Rijâl;
5- Al-Faw’id Al-Tharîqah fî Syarh Al-Shahîfah Al-Sajjâdiyah;
6- Risâlah Al-Awzân;
7- Al-Masâ’il Al-Hindiyah;
8- Risâlah fî Al-Syukûk;
dan masih banyak lagi karya Allamah Majlisi yang berbahasa Persia, jumlahnya menjcapai 22 buku.

 Bekal Pena

Allamah Majlisi selalu berbekal pena dalam perjalannya, contohnya dia menulis jilid ke-22 kitab Bihâr Al-Anwâr di kota Najaf sepulangnya dari ibadah haji, dia menulis terjemahan pidato Imam Ali Ridha as. dan artikel tentang Bulan Rajab di perjalanannya pulang dari Khurasan.
Seringkali para pelajar dan penuntut ilmu memanfaatkan kesempatan dari perjalanan Allamah, mereka ikut bepergian bersamanya untuk dapat menimba ilmu darinya dalam suasana yang akrab. Mir Muhammad Khatun Abadi mengatakan, ‘Dari sejak kecil aku hobi belajar ilmu-ilmu rasional, aku habiskan waktuku untuk itu, sampai kemudian ketika di perjalanan pulang dari ibadah haji aku bertemu dengan Allamah Maula Muhammad Baqir Majlisi dan berhubungan dekat dengannya, maka sejak itu aku tercerahkan oleh cahaya ilmunya dan termotivasi untuk menekuni ilmu-ilmu tekstual Islam seperti fikih, hadis dan sebagainya. Kemudian aku tersu menuntut ilmu dari Allamah selama empat puluh tahun.’ (Zendeginameh-e Allameh Majlesi, jld. 1, hal. 160; Ibid., hal. 161; Al-Kunâ wa Al-Alqab, jld. 3, hal. 123).
Ketika Allamah kunjung ke kota Masyhad Muqadas untuk berziarah ke makam suci Imam Ali Ridha as., para ulama dan pelajar memintanya untuk mengajarkan ilmu kepada mereka, maka dia membuka majelis-majelis ilmu untuk menerangkan empat puluh hadis penting selama kehadirannya di sana. Setelah itu, keterangan Allamah atas empat puluh hadis tersebut ditulis menjadi buku, dan ketika salah satu ulama Ahli Sunnah membacanya dia berkomentar, ‘Sebelumnya aku mengira tingkat keilmuan Allamah Majlisi tidak lebih dari penerjemahan buku dari bahasa arab ke bahasa persi, tapi setelah aku membaca karyanya yang berjudul Asmâ’ wa Al-‘Âlam dan kitab Syarh Arba’în aku sadar bahwa dia adalah seorang ulama yang tidak bisa dibayangkan lagi keberadaan ulama lain yang tingkat keilmuannya lebih tinggi dari dia.’ (Zendeginameh-e Allameh Majlesi, jld. 1, hal. 161).

 Aktifitas Politik

Selain aktif di bidang intelektual, Allamah Majlisi juga aktif di kancah politik, dia sering dizalimi oleh kedengkian kaum orientalis dan intelektual yang kebara-baratan. Setelah kepergian Almarhum Mulla Muhammad Baqir Sabzawari pada tahun 1090 H., Allamah menduduki posisi sebagai Syaikhul Islam, pada masa jabatannya dia banyak memberikan kontribusi besar di aspek politik dan sosial Iran. Antara lain kontribusi politik dia yang berharga adalah perjuangan melawan kelompok sufi, dia telah mengurangi kekuasaan mereka di kantor-kantor pemerintah dan istana penguasa. Megnenai kaum sufi yang melintah di mana-mana dan di kota Isfahan saja mereka mempunyai 21 biara, Allamah menuliskan, ‘Sekilas saya ingin menerangkan apa saja yang menurutku terbukti oleh hadis yang mutawatir sebagai prinsip-prinsip agama Islam yang benar, karena dengan itu kalian terhindarkan dari bahaya kesesatan dan tidak sampai termakan oleh tipuan atau kecongkakan kaum sufi, dan dengan itu pula aku telah menyampaikan bukti Allah swt. atas kalian secara lengkap dan sempurna.’ (Yadnomeh-e Allameh Majlesi, hal. 26; Terjumeh-e E’teqadote Allameh Majlesi, hal. 78).
Selain berjuang melawan kelompok Sufi, Allamah juga menentang keras para pastur, oknum asing, delegasi yayasan atau perusahaan Barat, dan penyembah berhala. Suatu hari di kota Isfahan, ada rumah yang dijadikan tempat menyembah berhala, dan ketika berita itu sampai kepada Allamah maka dia keluarkan fatwa untuk merusak rumah itu.’ (Roudhat Al-Jannât, jld. 2, hal. 79; Enqeradhe Selseleh-e Shafawiyeh, hal. 43).
Setelah Raja Sulaiman Darbarian dan Khajeh Sarayan mati, Husain Mirza (Sultan Husain) yang disayangi oleh Maryam Bigem –bibi raja- menduduki posisinya sebagai raja. Di upacara pelantikan dan pemasangan mahkota raja, Sultan Husain tidak mengijinkan kelompok Sufi untuk memasangkan mahkota itu di kepalanya, padahal itu sudah menjadi tradisi yang cukup lama di antara mereka, tapi dia malah memanggil Allamah Majlisi untuk menjalakan acara formalitas tersebut. Upacara itu diselenggarakan di Aula Kaca, lalu Sultan berkata kepada Allamah, ‘Apa imbalan yang kamu mau atas pemasangan mahkota ini?’ (ibid.).
Ketika itu Sultan Husain terbilang masih remaja, bahkan belum bisa menunggangi kuda sendiri. Allamah Majlisi memandangnya masih belum cukup dewasa untuk menahkodai negeri ini sampai ke tepi dengan selamat, itulah sebabnya dia meminta sesuatu yang tidak bisa dibayangkan bahkan oleh para ulama zaman itu, dia mengutarakan sesuatu yang menunjukkan betapa mulia ruhnya dan betapa luas pandangan politiknya, dia menitikberatkan pada tiga hal yang dapat menundukkan bangsa-bangsa besar dan menghinakannya, yaitu kebejatan, perpecahan, dan ketidakpedulian generasi muda. Dia berkata kepada Sultan, ‘Saya minta kepada Sultan untuk melarang minuman keras, pertikaian antar kelompok, dan permainan merpati.’ Sultan menerima permintaan itu dan segera mengeluarkan perintah seperti yang diinginkan oleh Allamah. (ibid.). Selain itu, Allamah juga mendesak dia untuk menandatangani perintah pengusiran kelompok sufi dari kota.
Semua itu merupakan kemenangan besar Allamah Majlisi di kancah politik, dengan bimbingan-bimbingannya dia berhasil menyelamatkan Iran dalam kondisi yang sangat sensitif; karena ketika itu penguasa Usmani di Barat, penguasa Uzbek di Timur, penguasa Gurgan di tenggara, penguasa Rusia di Utara, dan perusahaan-perusahaan raksasa Belanda atau Hindia Belanda sama-sama tertarik untuk menduduki kawasan Iran dan menguasainya.
Selang berapa tempo, terjadilah pengkhianatan dari orang-orang dalam yang terlena dalam kehidupan foya-foya, Mariam Bigem –bibi raja- memelopori rencana busuk mereka dan menarik Sultan ke lembah minuman keras dan kenikmatan duniawi, maka lambat laun pengaruh Allamah dalam pemerintahan semakin memudar.
Di antara poin penting yang patut untuk diperhatikan dalam politik Allamah Majlisi di istana adalah: Selama dia masih hidup dan berpengaruh di dalam kebijakan penguasa, tidak pernah terjadi peperangan antara Iran dengan tetangga-tetangganya yang dominan bermazhab Ahli Sunnah, wilayah-wilayah Ahli Sunnah di dalam negeri Iran sendiri tidak pernah dilanggar oleh kaum Syi’ah, dan intinya Iran pada zaman itu berada dalam keamanan dan kestabilan. Akan tetapi setelah dia meninggal pada tanggal 27 Ramadan 1111 H., hitungan mundur runtuhnya kekuasaan Shafawiyah melaju cepat, dan pada tahun itu juga wilayah Qandar lebih dulu runtuh daripada yang lain (Qishash Al-‘Ulama, Mirza Muhammad Tankabuni, hal. 205). Sumber: Gulsyan Abrar, ditulis oleh tim Baqirul Ulum).

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>