french-flag-niqab2Dalam makna ghalib terpisahnya agama dari skala politik dan pemerintahan, Sekularisme dianggap sebagai salah satu ajaran Kristen. Selama beberapa abad, pemikiran ini berkuasa di dunia Barat. Adakah relevansi antara ajaran Sekularisme dengan agama Kristen, bukan persoalan yang akan dibahas buku ini. Yang menjadi fokus buku ini adalah masalah utama dunia Islam di era modern, yaitu hubungan Sekularisme dengan agama terakhir, Islam, khususnya kitab terakhir Tuhan, yakni Al-Quran.

Sebagian cendekiawan Muslim, baik dari kalangan Arab maupun non-Arab, mengidentifikasi diri dengan budaya Sekularisme Barat hingga berusaha menyusupkannya ke tubuh Islam. Mereka lantas memperlakukan Islam tak ubahnya Kristen: agama personal yang tidak memiliki hukum duniawi dan sosial. Demi melapisi asumsi ini dengan anasir agama, mereka menggunakan ayat-ayat Al-Quran ketika mengargumentasikan kebenaran klaim ini dan membantah pendapat lawan. Oleh karena itu, mengkritisi pandangan dan kerancuan intelektual para pendukung Sekularisme dari sudut pandang Al-Quran adalah keputusan yang amat penting.

Dalam kamus Barat, saecularism digunakan dalam beberapa arti, seperti terpisahnya agama dan dunia, ketidaksucian, rasionalitas, saintisme, dan modernisme. Asalnya dalam bahasa Latin (saeculum), seperti yang dikatakan Whitesacker, berarti abad. Dalam sastra klasik Kristen, saeculum adalah lawan dari keabadian dan kekekalan ilahi, yaitu zaman sekarang yang sedang kita alami.

Dalam terminologi, Sekularisme berarti apa saja yang berurusan dengan dunia ini sekaligus terputus secara tidak langsung dari Tuhan dan Ketuhanan.[1]

Dalam bahasa Jerman, Sekularisme bersinonim dengan weltich yang bermakna dunia ini dan hal-hal yang berhubungan dengannya.

Sekularisme bisa dikaji dari dua aspek:

Pertama, berkaitan dengan asal usul dan masa penggunaan kata sekular.

Kedua, berhubungan dengan basis pemikiran Sekularisme dan implikasi-implikasinya. Yakni, sejak kapan pemikiran ini muncul dan apa saja penyebab kemunculannya. Kami akan membahas persoalan ini pada bagian mukadimah secara lebih terperinci.

Terkait aspek pertama, dapat dipastikan bahwa dalam peletakan dan penggunaan kata “sekular”, sama sekali tidak ada pemaknaan ketidaksucian, rasionalitas, marginalisasi dan privatisasi agama. Kata “sekular” justru sebutan untuk suatu proses dan peristiwa yang menyebabkan gereja kehilangan sebagian kekayaan dan wilayah tanahnya karena diambil-alih pihak lawan, yaitu pemerintah.

Terkait masalah ini, Brain R. Wilson, salah seorang peneliti agama kontemporer, menuliskan:

Kata sekularisasi dalam bahasa-bahasa Eropa, pertama kali digunakan dalam Perjanjian Westfalley pada 1648 M. Isi perjanjian itu adalah penjelasan dan deskripsi pemindahan sejumlah wilayah tanah dari pengawasan gereja ke bawah otoritas kekuasaan politik nonruhaniawan. Pada masa itu, kata sekularis sudah umum digunakan masyarakat. Pembedaan antara kata sacred (suci dan agamis) dan sekular (duniawi dan profan) secara global merupakan pemisahan konsep-konsep metafisis Kristen dari segenap perkara yang dianggap sebagai duniawi, tidak suci, dan materiil. Pembedaan ini lantas mengasosiasi keyakinan akan keunggulan perkara-perkara suci dan konsep-konsep agamis.[2]

Arti awal ini juga dikemukakan Whitesacker. Dia menambahkan bahwa sebagian kekayaan gereja juga dialihkan kepada masyarakat:

Sudah sekian lama sekularisasi merupakan sebuah muatan arti yudikatif yang menunjukkan penyerahan kekayaan gereja kepada publik. Begitulah bagaimana masyarakat, misalnya, sering berbicara tentang biara sekularis [maksudnya, tempat ibadah yang bukan lagi milik gereja].[3]

 Antara Sekularisme dan Sekularisasi

Dalam terminologi, Sekularisme digunakan pada sebuah ideologi dan mazhab yang menyebarkan pemikiran sekular. Adapun sekularisasi berarti praktik dan proses pemisahan agama dari politik dan dunia, serta penyingkirannya dari lingkup akal dan logika. Terkait masalah ini, Wilson menyatakan:

Pada dasarnya, pemisahan agama dan dunia (sekularisasi) berhubungan dengan proses berkurangnya atau hilangnya aktivitas, kepercayaan, pemikiran, pola hidup, dan simbol-simbol agama. Hal ini (sekularisasi) ghalibnya terjadi seiring dengan pelbagai transformasi struktur sosial, atau merupakan dampak yang tak diinginkan dan tak terantisipasi dari proses-proses di atas. Sedangkan Sekularisme yang percaya pada otentisitas dunia adalah sebuah ideologi. Para pendukung ideologi ini secara sengaja menolak semua bentuk keyakinan pada perkara dan konsep metafisis, medium-medium dan segenap aktivitas yang terkait khusus dengannya. Mereka juga menganut prinsip-prinsip nonagama dan antiagama sebagai fondasi etika personal dan tatanan sosial.[4]

Beserta para penulis lain, Harvey Cooks dalam Shahre Dunyavî juga menggarisbawahi perbedaan di atas.[5] Namun sebagian peneliti lain menolaknya dan menyatakan bahwa Sekularisme hanyalah sebuah metoda, bukan ideologi.[6]

Tampaknya Sekularisme tidak dapat dikategorikan sebagai mazhab dalam arti terminologisnya yang memiliki prinsip, tujuan, dan sistem yang utuh dan khas. Paling-paling, Sekularisme sebatas teori politik-sosial yang menganjurkan agama agar tidak campur tangan dalam urusan sosial. Dengan kata lain, misi Sekularisme adalah sebuah misi negatif: menghendaki pelucutan kekuasaan dari agama. Tetapi setelah itu, hal positif apa yang mesti dirancang dan diterapkan, Sekularisme tidak mengajukan agenda apa pun. Karena itulah ia bukan tipikal mazhab atau ideologi.

Juga dapat dikatakan bahwa Sekularisme adalah gagasan dan cita-cita manusia sekular. Ini tentu berbeda dengan sekularisasi.

Dinamika Sekularisasi

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan peristiwa politik dan ekonomi, kata sekular digunakan dalam beberapa arti baru. Di antaranya:

a.  Pembebasan Pastor

Dalam struktur kegerejaan, kata ini pertama kali digunakan pada sekelompok pastor yang mengabdi pada masyarakat (pastor publik). Di seberang mereka berdiri sejajaran pastor yang tidak punya urusan dengan khalayak; pengabdian mereka lebih terfokus pada gereja dan lembaga-lembaga keagamaannya (pastor religius). Dari situlah kata ini kemudian digunakan dalam arti pembebasan pastor dari ikatan perjanjian dengan gereja.

b.  Pemisahan Agama dari Politik

Dengan kemajuan ilmu-ilmu empiris dan eksak kemunculan Kebangkitan Reformasi, kata sekular digunakan dalam sejumlah arti baru. Pada masa kini, salah satu arti sekular yang populer di dunia Barat adalah pemisahan agama dari wilayah politik, pemerintahan, dan sosial. Artinya, agama harus angkat tangan dari masalah-masalah manusia dan dunia seperti: ekonomi, pendidikan, dan hukum; agama hanya mengurusi hal-hal parsial dan personal semacam upacara doa, perkawinan, penceraian, dan jenazah. Berkenaan dengan hal ini, Wilson menulis:

Pada abad ke-20, kata [sekular] ini—di samping konsep yang dimaksud telah menemukan muatan-muatan makna sosial yang lebih umum—juga digunakan dalam arti-arti yang lebih variatif. Para sosiolog menggunakan istilah ini untuk menyebut suatu tren terbebasnya kendali kontrol sosial, zaman, fasilitas, sumber daya, dan individu dari tangan tokoh-tokoh agama. Pelbagai metode dan pola empiris dan target-target duniawi muncul menggantikan atribut, slogan dan praktik simbolik yang mengarah ke dunia sana atau alam metafisik.[7]

c.  Kekuasaan Negara di atas Gereja

Tidak sekadar puas mengucilkan agama dan gereja serta memisahkannya dari pemerintahan, para penyeru Sekularisme bahkan mengklaim bahwa bapak-bapak gereja dan para ruhaniawan Kristen berada di bawah kedaulatan para penguasa. Beberapa nama pendukung klaim ini adalah Elygirey Dante (1265-1321), Padvai dan Iandoney (abad ke-14 M), Machiavelli (1469-1527), Thomas Arast[8] dan nama-nama lain yang akan disebutkan dalam bagian ‘Basis Teoretis’ dari bab ini. Filsafat Neo-Totalitarianisme atau Kolektivisme[9] juga turut memopulerkan pandangan ini.[10]

Berdasarkan pandangan ini, gereja dan agama merupakan alat di tangan elite politik. Undang-undang gereja dan tindakan para pastor harus diatur di bawah pengawasan penguasa. Tentang hal ini Walter mengatakan:

Tidak ada hukum gereja yang sahih kecuali setelah disetujui pihak negara. Dalam semua kondisi, orang-orang gereja mesti berada sepenuhnya di bawah pengawasan negara, karena mereka adalah warga negara.[11]

d. Agama sebagai Sensasi dan Pengalaman Religius

Akibat serangan para penentang, jajaran bapak gereja dan kaum agamawan terpaksa membatasi agama pada keyakinan dan dimensi kognitif—itu pun dalam skala personal. Alih-laih sebagai solusi, langkah ini justru memicu serangan dari arus lain, yaitu desakan kaum sekular untuk menghapus dan menjungkirbalikkan [makna] agama. Mereka menganggap agama bukan lagi kepercayaan atau keimanan, tetapi tidak lebih dari emosi dan selera pribadi seseorang. Definisi agama yang bernuasa psikologis ini dicetuskan dan diserukan oleh kebanyakan sejarawan dan psikolog pada abad-abad terakhir.

e. Peniadaan Agama dan Ajaran Metafisis

Dalam arti yang umum dan baru, sekular, yang di masa kini diserukan para filsuf ateis dan empiris, adalah pengucilan ajaran-ajaran metafisis yang merupakan inti agama.

Lantaran agama dan ajaran-ajaran metafisis seperti: eksistensi Tuhan, wahyu, alam gaib, dan alam akhirat, berada di luar jangkauan kaum empiris dan merupakan lawan ajaran-ajaran duniawi, maka mereka harus diusir dari benak manusia. Agama tidak hanya dibuang dari pentas politik dan sosial, tetapi juga mesti dienyahkan dari wilayah rasionalitas.

Sekularisme juga memiliki definisi-definisi lain seperti; pemisahan agama dan dunia, pemisahan agama dan pemerintahan, Sekularisme Temporal, dan Sekularisme Prudensialistik. Definisi-definisi ini akan dibahas secara terperinci dalam bab ‘Model-model Sekularisme’.Bersambung

*Uuntuk kebutuhan referensi, silakan kontak redaksi situs.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>